Sifat manusia yang sudah menjadi watak kodratinya adalah selalu ingin tergesa dan selalu ingin berlomba dan susah untuk dapat melihat dirinya sendiri melainkan lebih condong dan hanya pandai menilai kekurangan orang lain tanpa menghiraukan seperti apa dirinya sendiri adanya. Tolok ukur sosial tentang sesuatu tidaklah statis melainkan selalu berubah ubah dalam ketidak pastian dipengaruhi oleh situasi fenomena dan paradigma yang terus berkembang setiap waktu di sekitarnya, hal inilah yang membuat perkembangan situasi kejiwaan manusia pada umumnya terpancing untuk mengikuti arus main stream tanpa dapat dikendalikan oleh pikiran jernih dan akal sehat yang semestinya. Kenyataan menunjukkan bahwa emosi lebih berkuasa dari pada nalar yang lurus dan benar sebagai alat untuk dapat mencapai tujuan apapun caranya dengan banyak mengesampingkan pertimbangan pemikiran bijak yang selayaknya dapat berfungsi sebagai alat kontrol berdasar nilai nilai keluhuran budi pekerti yang secara esensi dapat digunakan untuk membedakan antara sifat kemanusiaan dan sifat kebinatangan. Sifat manusia yang lebih banyak memperturutkan emosi nafsu dapat dan terbukti telah menjerumuskan secara luas pada semua kalangan masyarakat manusia pada umumnya yang hal itu lebih mencerminkan menonjolnya watak dan jiwa kebinatangan dari pada jiwa kemanusiaan berdasar kenyataan yang ter ekspresikan dalam gegap gempitanya persaingan hidup dan desakan kepentingan pada masa masa sekarang ini. Sebagai contoh paling gampang adalah bahwa pada motivasi setiap pribadi, keluarga maupun kelompok telah begitu banyak menimbulkan dampak akibat berupa friksi, benturan dan intrik sebagai bentuk konflik terus menerus secara internal maupun eksternal pada setiap saat dan dimanapun berada yang selanjutnya lebih banyak menimbulkan masalah masalah baru dan dapat berkembang menjadi bertambah gelapnya alam pikiran maupun situasi sektoral dan atau situasi umum ketimbang jernihnya jagad pikiran global. Dalam usia sejarah keberadaan umat manusia di muka bumi ini yang sudah memasuki usia senja, semua kemajuan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi bukannya menambah jinaknya jiwa manusia secara umum tetapi lebih cenderung malah bertambah ganas dan liarnya jiwa manusia jauh melebihi keganasan jiwa binatang manapun juga. Semua perangkat yang berfungsi mengendalikan sifat keganasan jiwa yakni doktrin agama agama manapun telah di obrak abrik sedemikian rupa oleh sebagian besar umat manusia di muka bumi ini untuk ditundukkan dibawah keinginan nafsu manusia atau kalau tidak bisa dikatakan hanya sebagai lambang tak dimaknai sebagaimana yang seharusnya. Ikatan kehidupan sosial bersama umat manusia yang berbentuk negara dimanapun tidak lepas dari pertikaian antara berbagai pihak hitam putih abu abu dalam pergulatan secara internal negara maupun eksternal terhadap negara lainnya. Situasi ini menjadi bertambah suram dikala terdapat campur tangan negara lain dalam sebuah negara, sebab terdapat perbedaan standart ukuran nilai budaya dan nilai kebenaran yang berbeda pula dari setiap budaya antar bangsa manusia. Kalaulah asal usul manusia itu pada dahulunya adalah satu toh pada jaman sekarang ini sudah tidak kurang dari 5 milyard populasi umat manusia dengan berapa puluh ribu atau juta keadaan psikologis yang melatar belakangi setiap perilaku dan watak serta sifat masing masing kelompoknya. Keadaan status sosialpun sudah begitu banyak tingkatan kondisinya, namun apa yang menjadi kenyataan masih juga bahwa yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin banyak, yang korupsi makin banyak dan tidak mungkin akan berhenti dengan sendirinya, yang sadar dari perilaku korupsi tidak dapat diketahui siapa orangnya dan berapa jumlah orangnya, tetapi yang marah dan melakukan tindakan perlawanan dengan segala cara dan kekuatan untuk bersembunyi dibalik tindakan bejat korupnya yang lebih menonjol. Kekayaan negara bukan lagi untuk kesejahteraan rakyat sebagaimana tercamtum pada dasar negara dan undang undang dasar negara tetapi hanya dimainkan oleh para pemegang kekuasaan negara demikian terus menerus silih berganti aktornya. Kamuplase pembohongan publik makin marak saja dari tahun ke tahun tidak pernah surut ke belakang barang sejengkalpun dan barang sejenakpun dari waktu ke waktu, tetapi makin marak saja makin canggih saja tata caranya sesuai perkembangan jaman. Di negara republik Indonesia yang sudah berumur 64 tahun sejak di prolamirkannya sebagai sebuah negara, kejahatan yang dinamakan korupsi telah terbukti tumbuh subur dan menjamur di setiap tingkatan kalangan kekuasaan pemerintah maupun swasta dimanapun dari waktu ke waktu semakin menunjukkan gejala menggila dan susah untuk dihentikan, hal ini sudah menjadi budaya krisis moral berkepanjangan dan semakin parah sehingga sifat jiwa kemanusiaan secara umum lebih banyak mencirikan sifat jiwa kebinatangan dimana kebenaran menjadi barang yang lambat laun asing dan sebaliknya kebejatan moral makin dianggap sebagai bentuk kebenaran umum. Jiwa nasionalisme bagai fata morgana yang tidak pernah menjadi kenyataan di jaman sekarang ini selain hanya slogan yang diucapkan pada upacara atau hanya sebatas label sebuah produk barang dan jasa saja ketimbang militansi, karena daerah sudah banyak yang mulai menyuarakan ketidak puasan atas dasar keadilan dan isu sukuisme dibawah permukaan yang tidak tampak tetapi ada. Akankah perubahan yang dijanjikan pihak penguasa itu segera datang ? atau lambat datang ? atau mungkinkah hanya angan angan ? ........ selama korupsi tidak dapat berhenti jangan harapkan perubahan ke arah kehidupan yang adil dan sejahtera akan datang tetapi sebaliknya akan semakin mengerikan saja pertarungan jiwa kebinatangan yang amat jahat di kemudian hari ................... semua orang yang lemah berharap tetapi relakah yang merasa kuat ? ................. wallahu'alam bi shawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar