Berbagai opini, artikel dan ulasan tentang isu terorristme telah banyak bermunculan di media masa (publik) dari waktu ke waktu makin variatif dan makin memperkaya khasanah tinjauan unsur jabaran yang berasal dari berbagai level nara sumber berdasarkan kompetensi masing-masing sesuai bidangnya dan target kepentingannya. Ada yang berlatar belakang edukatif, eksekutif, yudikatif maupun legislatif dan diluar itu semua ada juga yang berlatar belakang pandangan integratif dengan tujuan mengurai benang kusut atau benang ruwet dari hal-hal atau unsur-unsur yang bersifat partial berdasar berbagai nara sumber tersebut diatas agar dapat ditarik garis lurus yang jernih dan jelas sehingga akar permasalahan yang relevan transparan bisa dimunculkan dan dapat diterima oleh semua pihak dari semua golongan dalam masyarakat. Dalam hal explorasi permasalahan isu terorristme yang berkembang di Indonesia maupun dunia pada umumnya masing-masing pihak selaku nara sumber berangkat dari dasar logika berfikir dan kerangka (frame) berfikir yang sesuai dengan porsi proporsi tujuan kepentingannya mulai dari hulu sampai hilir tentang apa yang menjadi sasaran pokok target yang diharapkan. Maka dari sinilah muncul berbagai methode partial secara substansi sesuai porsi dan proporsi masing-masing pihak selaku nara sumber dengan hasil yang diharapkan pada sasaran target yang akhirnya didapat juga sangat variatif tapi bersifat edukatif yang kaya khasanah pada multilevel strata sosial masyarakat dan multi fungsi yang masih dalam koridor kepentingan berbagai element masyarakat yang secara esensial harus dapat berjalan simultan dan tidak mengakibatkan benturan kultural antar pihak dalam implementasinya di kehidupan berbangsa dan bernegara yang komprehensif adil dan beradab sesuai dengan falsafah hidup Pancasila. Kemudian yang menjadi pertanyaan sangat mendasar dalam upaya explorasi tersebut adalah apakah dari setiap methode yang diterapkan oleh masing-masing pihak tersebut bersifat : legal ataukah illegal, obyektif ataukah subyektif. akurat ataukah asal-asalan, bias ataukah fokus, derajad kepercayaannya tinggi ataukah rendah, esensi substansi permasalahannya steril ataukah terkontaminasi, universal ataukah puritan, tertib ataukah amburadul, dibangun atas dasar kejujuran ataukah manipulatif dan lain sebagainya yang pada akhirnya nanti akan menimbulkan hasil yang berimplikasi sangat variatif. Tidak dapat dipungkiri atau bahkan mungkin dihindari bahwa pada akhirnya akan terjadi juga polemik berkepanjangan menyangkut tuntutan dalam hal mendapatkan kebenaran yang sesungguhnya tentang isu terorristme seperti yang telah terjadi hampir satu dekade belakangan ini. Karena substansi kebenaran yang sesungguhnya justru tidak akan pernah didapatkan kalau masih ada pihak-pihak tertentu yang berkepentingan secara partial (conflick of interest) untuk meng exploitasi secara partial dimana akhirnya akar permasalahan yang sebenarnya tidak dapat ditarik menurut garis lurus berdasar pola integrasi yang artinya dari sekian banyak elemen-elemen partial tersebut tidak dapat match antara unsur yang satu dengan unsur lainnya............ dalam bahasa jawa disebut selegenje..........................
Nah dari sinilah kita perlu meminjam istilah dari pelawak Tukul Arwana : kembali ke laptop ............... he he he he ...................... karena dia adalah ahlinya ................. ahli dalam bidang teknologi informasi (TI) dan situs dunia maya ............... fakta-fakta yuridis secara esensi dan substansi adalah unsur-unsur material evidence (bukti mati) yang pada hakekatnya adalah bukti fakta yang tidak dapat berbohong tetapi informasi yang dapat digali darinya sangat bergantung kepada tingkat kemampuan unsur manusianya yang membaca fakta tersebut .................. mampu yang bagaimana ?! ................... yaa maksudnya mampu menggali kebenaran informasi yang sesungguhnya secara akurat dan obyektif atas dasar kebenaran universal dari segi internal maupun eksternal faktor dengan derajad kepercayaan tinggi atau dalam bahasa Arab disebut shahih alias terpercaya ........................... wuuiihhh itu namanya kaliber expert dong ?! ............................... yaa sudah barang tentu karena pada zona itu adalah wilayah yang sarat dengan muatan beban moral maupun beban norma ..................... karena kita adalah bangsa manusia yang berbudaya dan bukannya bangsa binatang melata .................... he he he he ......................... Kalau kondisinya demikian apa itu bukan namanya potensi untuk menjadi polemik berkepanjangan ?! .................... yaa tergantung dong kepada bagaimana cara me manage konflik ................. Nah dari sinilah kita perlu untuk meminjam lagi istilah dari Gus Dur : gitu aja kok repot ............................. he he he he ...................... banyak jalan menuju roma artinya banyak cara untuk menyelesaikan masalah kalau mau pakai cara yang extrem bakar saja jenggotnya pasti dijamin mencak-mencak dan mengomel sumpah serapah atau bahkan menyanyi tak gendong ke mana-mana kayak mbah Surip (almarhum) .................. he he hehe ....................... kan tinggal mengiringi dengan musik toooooooooo Opo ae rek onok maneh ............................ lha piye meneng salah, guyon salah, mblayu salah, mangan salah, tuku klambi salah, plonga plongo salah, ndoweh salah ............................... salah salah, bener bener, salah bener, bener salah .............................. he he he he repot dong ................................


Tidak ada komentar:
Posting Komentar